Tulisan

Adab Berinteraksi dengan AI: Sopan Santun di Era Mesin yang Berpikir

27 Oktober 2026 · Kompasiana
Tayang pertama di Kompasiana

Hari ini banyak orang memulai pagi dengan bertanya kepada mesin. Meminta ringkasan rapat, menyusun surat, mencari resep, sampai menanyakan arti sebuah istilah hukum. Asisten berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude sudah menjadi "lawan bicara" sehari-hari.

Pertanyaannya: kalau lawan bicaranya mesin, apakah adab masih berlaku? Jawabannya ya. Adab memang bukan soal perasaan mesin, melainkan soal siapa kita saat berinteraksi, apa yang kita bagikan, dan bagaimana kita memakai hasilnya. Tulisan ini merangkum tiga adab dasar: sopan, jujur, dan bertanggung jawab.

Sopan: Kebiasaan Baik Tidak Mengenal Lawan Bicara

Ada yang bertanya, untuk apa mengetik "tolong" dan "terima kasih" kepada mesin? Pada April 2025, seorang pengguna di media sosial X bertanya kepada CEO OpenAI Sam Altman berapa biaya listrik yang timbul karena orang menulis "please" dan "thank you" kepada ChatGPT. Altman menjawab singkat: "tens of millions of dollars well spent" (puluhan juta dolar yang dibelanjakan dengan baik). Angka itu jawaban santai, bukan laporan keuangan resmi, tetapi pesannya jelas: kesopanan kepada AI tidak dianggap sia-sia oleh pembuatnya sendiri.

Penelitian juga menyentuh soal ini. Studi berjudul Should We Respect LLMs? A Cross-Lingual Study on the Influence of Prompt Politeness on LLM Performance (Yin dkk., dipresentasikan di lokakarya SICon 2024) menguji pengaruh tingkat kesopanan perintah terhadap kinerja model bahasa dalam bahasa Inggris, Mandarin, dan Jepang. Temuannya: perintah yang kasar cenderung menghasilkan jawaban yang lebih buruk, sementara kesopanan berlebihan tidak otomatis membuat hasil lebih baik. Tingkat kesopanan yang paling pas pun berbeda menurut bahasa dan budaya.

Artinya, sopan yang wajar sudah cukup. Dalam praktik, sopan kepada AI berarti:

  • Menulis permintaan dengan jelas dan tertata. Sebutkan tujuan, konteks, dan bentuk jawaban yang diinginkan. Ini bentuk menghargai waktu kita sendiri.
  • Tidak melampiaskan amarah atau kata kasar. Kebiasaan berkata kasar kepada mesin mudah terbawa ke percakapan dengan manusia.
  • Menjaga bahasa di ruang bersama. Banyak aplikasi AI kini dipakai bersama keluarga, kelas, atau tim kerja. Riwayat percakapan bisa dibaca orang lain.

Sopan kepada AI pada akhirnya adalah latihan karakter. Kebiasaan yang kita ulang setiap hari akan membentuk cara kita bicara di mana pun.

Jujur: Jangan Menipu, Jangan Mengaku-aku

Adab kedua menyangkut kejujuran, baik kepada mesin maupun kepada orang lain tentang peran mesin itu.

Pertama, jujur dalam memberi konteks. AI menjawab berdasarkan apa yang kita tulis. Memberi data palsu, memancing AI agar membuat hoaks, atau "mengakali" sistem supaya mau menulis konten yang merugikan orang lain adalah bentuk ketidakjujuran, sekalipun lawan bicaranya mesin.

Kedua, jujur tentang keterlibatan AI. Tulisan, gambar, atau tugas yang dibantu AI sebaiknya diakui sebagai bantuan AI, terlebih di sekolah, kampus, dan tempat kerja yang punya aturan sendiri. Mengakui bantuan AI bukan aib; menyembunyikannya bisa menjadi masalah integritas.

Ketiga, jujur bahwa AI bisa salah. OpenAI sendiri, dalam halaman bantuannya, mengingatkan bahwa ChatGPT dapat menghasilkan keluaran yang keliru atau menyesatkan, dan kadang terdengar yakin meski salah. OpenAI menyarankan pengguna memperlakukan jawaban sebagai draf awal, bukan sumber akhir, serta memeriksa kutipan, data, informasi teknis, dan rujukan. Fenomena ini sering disebut "halusinasi" AI. Menyebarkan jawaban AI tanpa memeriksanya, lalu menyajikannya seolah fakta, sama saja dengan meneruskan kabar yang belum jelas sumbernya.

Bertanggung Jawab: Kita yang Memutuskan, Bukan Mesin

Adab ketiga adalah tanggung jawab. AI hanyalah alat; keputusan dan akibatnya tetap milik manusia.

Jaga data, milik sendiri maupun orang lain

Pada Mei 2023, sejumlah media melaporkan Samsung melarang karyawannya memakai layanan AI generatif di perangkat dan jaringan perusahaan, setelah ada kode sumber internal yang diunggah ke ChatGPT. Pelajarannya sederhana: apa pun yang kita ketik ke layanan AI bisa keluar dari kendali kita.

Karena itu, jangan memasukkan kata sandi, kode OTP, nomor rekening, NIK, data pasien, data siswa, atau dokumen rahasia kantor ke dalam percakapan dengan AI tanpa izin dan pengamanan yang jelas. Di Indonesia, data pribadi dilindungi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. Membagikan data orang lain ke layanan AI tanpa dasar yang sah bukan hanya soal adab, tetapi juga bisa menjadi persoalan hukum.

Jangan serahkan keputusan penting sepenuhnya

Pemerintah Indonesia lewat Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial, yang ditandatangani 19 Desember 2023, menekankan nilai seperti inklusivitas, aksesibilitas, keamanan, kemanusiaan, serta kredibilitas dan akuntabilitas. Surat edaran ini juga menegaskan bahwa AI tidak boleh menjadi penentu kebijakan atau pengambil keputusan yang menyangkut kemanusiaan. Surat edaran ini ditujukan kepada pelaku usaha dan penyelenggara sistem elektronik, tetapi semangatnya relevan bagi pengguna: keputusan tetap di tangan manusia.

Di tingkat global, 193 negara anggota UNESCO mengadopsi Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence pada 23 November 2021. Dokumen ini tidak mengikat secara hukum, tetapi menjadi rujukan bersama bahwa pengembangan dan pemakaian AI harus menghormati hak asasi dan martabat manusia.

Dalam keseharian, tanggung jawab itu berarti: jawaban AI soal kesehatan, hukum, dan keuangan dijadikan bahan diskusi dengan ahli, bukan resep final. Hasil kerja yang dibantu AI dibaca ulang, diperiksa, dan dipertanggungjawabkan oleh kita sendiri.

Gunakan untuk kebaikan

AI bisa dipakai untuk belajar, menulis lebih rapi, menerjemahkan, dan menghemat waktu. AI juga bisa disalahgunakan untuk membuat hoaks, penipuan, atau gambar palsu yang merugikan orang lain. Adab yang paling mendasar adalah niat: memakai AI untuk hal yang bermanfaat dan tidak menyakiti siapa pun.

Ringkasan: Tiga Adab, Satu Kebiasaan

  • Sopan: permintaan jelas, bahasa santun, tanpa kata kasar.
  • Jujur: konteks benar, akui bantuan AI, ingat AI bisa salah.
  • Bertanggung jawab: lindungi data, periksa ulang, keputusan tetap di tangan manusia.

Mesin mungkin tidak tersinggung, tetapi kebiasaan kita membentuk diri kita. Adab terhadap AI pada dasarnya adalah adab terhadap diri sendiri dan sesama: menjaga lisan, menjaga amanah data, dan menjaga kebenaran informasi. Di era mesin yang "berpikir", justru manusialah yang paling perlu terus berpikir.

Sumber:

9 pembaca 0 suka 0 komentar
Bagikan WhatsApp LinkedIn X Facebook

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Untuk menyukai atau menulis komentar, masuk dengan akun Google.

Langganan tulisan

Dapat email setiap ada tulisan baru. Bisa berhenti kapan saja.

atau