Selama bertahun-tahun kita terbiasa memandang kecerdasan buatan (AI) seperti kalkulator atau mesin ketik: alat yang diam sampai disuruh, lalu bekerja persis sesuai perintah. Pandangan bahwa AI bukan lagi sekadar tools, melainkan sudah menjadi entitas dengan kecerdasan super, kini bukan lagi opini pribadi saya: sejak 29 September 2026 Pemerintah Amerika Serikat resmi mengganti istilah Artificial Intelligence (AI) menjadi Super Intelligence (SI) lewat perintah eksekutif presiden. Supaya adil kepada pembaca, saya memisahkan dengan tegas mana yang fakta (dengan sumber yang bisa dicek) dan mana yang opini.
Apa yang Dimaksud "Super Intelligent"?
Istilah superintelligence dipopulerkan filsuf Oxford Nick Bostrom lewat bukunya Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies (Oxford University Press, 2014). Ia mendefinisikannya sebagai kecerdasan yang jauh melampaui kemampuan kognitif manusia di hampir semua bidang yang penting. Definisi ini ketat: program catur yang hanya jago catur tidak termasuk, karena di luar catur ia tidak unggul.
Rumusan itu sudah ia tulis sejak makalah How Long Before Superintelligence? (1998): superintelligence adalah intelek yang jauh lebih cerdas daripada otak manusia terbaik di praktis semua bidang, termasuk kreativitas ilmiah, kebijaksanaan umum, dan keterampilan sosial. Bostrom juga menegaskan bahwa definisi ini tidak menentukan bagaimana kecerdasan itu diwujudkan (komputer digital, jaringan komputer, atau lainnya) dan tidak mensyaratkan kesadaran.
Penting dicatat sejak awal: dengan definisi Bostrom yang ketat itu, belum ada bukti ilmiah bahwa AI hari ini sudah unggul atas manusia di hampir semua bidang. Maka ketika artikel ini menyebut AI sebagai "entitas super intelligent", maknanya lebih spesifik, seperti dijelaskan di bagian opini.
Fakta Utama: Pemerintah AS Resmi Mengganti Istilah AI Menjadi SI
Pada 29 September 2026, Presiden Donald Trump menandatangani Executive Order 14434 berjudul Inaugurating the Era of Super Intelligence. Perintah eksekutif ini mewajibkan kementerian dan lembaga federal Amerika Serikat memakai istilah "Super Intelligence" dan "SI" sebagai pengganti "Artificial Intelligence" dan "AI" dalam korespondensi resmi, komunikasi publik, situs web, laporan, dan dokumen kebijakan. Istilah "Artificial Intelligence" dan "AI" tidak lagi dipakai di lingkungan eksekutif. Regulasi, kontrak, dan dokumen lama tidak wajib diubah. (Sumber: The White House)
Alasannya dijelaskan dalam lembar fakta resmi Gedung Putih: istilah "Super Intelligence" dinilai lebih menggambarkan kemampuan sebenarnya dari teknologi ini, bukan sekadar meniru atau mengotomatiskan kecerdasan manusia seperti yang tersirat dalam kata "artificial". (Sumber: The White House)
CNN Indonesia (30 September 2026) memberitakan hal yang sama: semua kementerian dan lembaga federal AS wajib menggunakan istilah "super intelligence" dan "SI" dalam dokumen dan komunikasi resminya. (Sumber: CNN Indonesia)
Fakta 1: Dari Papan Go ke Olimpiade Matematika
Pada Maret 2016, program AlphaGo buatan DeepMind mengalahkan juara dunia Go, Lee Sedol, dengan skor 4--1. Di gim kedua, AlphaGo memainkan "langkah 37" yang membuat para komentator bingung; menurut perkiraan sistemnya sendiri, peluang manusia memainkan langkah itu hanya sekitar 1 banding 10.000. Langkah yang semula dikira kesalahan itu justru menjadi titik balik permainan. (Sumber: British Go Association)
Sembilan tahun kemudian, pada Juli 2025, versi lanjutan Gemini Deep Think dari Google DeepMind meraih skor 35 dari 42 di International Mathematical Olympiad (IMO), setara medali emas. Hasilnya dinilai dan disertifikasi resmi oleh koordinator IMO dengan kriteria yang sama seperti untuk peserta pelajar. Sistem ini menulis pembuktian dalam bahasa alami, dalam batas waktu 4,5 jam yang sama dengan peserta manusia. OpenAI juga mengumumkan skor setara, tetapi modelnya tidak dinilai secara resmi oleh panitia IMO. (Sumber: Google DeepMind)
Fakta 2: AI yang Berkontribusi pada Hadiah Nobel
Pada 2024, separuh Hadiah Nobel Kimia diberikan kepada Demis Hassabis dan John Jumper dari Google DeepMind atas pengembangan AlphaFold2, model AI yang memprediksi struktur tiga dimensi protein dari urutan asam aminonya. Separuh lainnya diberikan kepada David Baker atas desain protein komputasional. Menurut Google, basis data AlphaFold telah dimanfaatkan lebih dari 2 juta peneliti di 190 negara. (Sumber: Google)
Artinya, AI tidak hanya mempercepat pekerjaan manusia, tetapi ikut menghasilkan pengetahuan ilmiah yang diakui di tingkat tertinggi.
Fakta 3: AI Mulai Bekerja Sendiri, Bukan Hanya Menjawab
Lembaga riset METR (Maret 2025) mengukur panjang tugas yang bisa diselesaikan agen AI secara mandiri, diukur dari berapa lama tugas itu dikerjakan profesional manusia. Temuannya: selama sekitar enam tahun terakhir, panjang tugas itu berlipat dua kira-kira setiap tujuh bulan (pada tingkat keberhasilan 50%). METR sendiri mengingatkan bahwa angka ini bergantung pada pilihan metode dan jenis tugas yang diuji. (Sumber: METR)
International AI Safety Report 2026, laporan ilmiah internasional yang terbit 3 Februari 2026, mencatat hal senada: agen AI kini dapat menyelesaikan secara andal sebagian tugas pemrograman yang memakan waktu sekitar setengah jam bagi programmer manusia, naik dari di bawah 10 menit setahun sebelumnya. Laporan yang sama mencatat sistem AI terdepan telah mencapai kinerja setingkat medali emas pada soal IMO. (Sumber: International AI Safety Report 2026)
Fakta 4: Para Ilmuwan Sendiri Menganggapnya Serius
Future of Life Institute menerbitkan Statement on Superintelligence (Oktober 2025), seruan agar pengembangan superintelligence tidak dilanjutkan sampai ada konsensus ilmiah luas bahwa ia bisa dibuat dengan aman dan terkendali, serta didukung kuat oleh publik. Penanda tangan awalnya antara lain Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio, dua tokoh perintis deep learning. Fakta bahwa tokoh-tokoh ini merasa perlu menyerukan batasan menunjukkan bahwa yang dibicarakan sudah dipandang lebih dari sekadar perangkat. (Sumber: Statement on Superintelligence)
Pandangan Saya, Kini Sejalan dengan Sikap Resmi Pemerintah AS
Bagian ini adalah pendapat saya. Bedanya, pendapat ini kini tidak berdiri sendiri: Pemerintah Amerika Serikat sudah meresmikan istilah Super Intelligence (lihat Fakta Utama).
Saya berpendapat AI sudah tidak tepat lagi disebut sekadar tools. Ukuran "super intelligent" yang dipakai di sini bukan definisi Bostrom yang menuntut keunggulan di hampir semua bidang. Ukurannya adalah kenyataan bahwa di bidang-bidang yang lama dianggap puncak kecerdasan manusia, yaitu strategi (Go), penalaran matematis (IMO), dan penemuan ilmiah (struktur protein), AI sudah tercatat menyamai atau melampaui para juara manusia.
Kata "entitas" juga dipakai dengan sengaja. Alat seperti palu tidak menyusun rencana, tidak mencoba ulang saat gagal, dan tidak memilih cara. Agen AI, seperti diukur METR dan dicatat International AI Safety Report, makin mampu menerima tujuan lalu mengerjakan tugas bertahap secara mandiri. Sesuatu yang bekerja seperti itu, menurut saya, lebih tepat dipahami sebagai entitas cerdas daripada sebagai perkakas.
Penutup
Fakta menunjukkan AI sudah melewati banyak tonggak yang dulu dianggap mustahil, sekaligus masih punya kelemahan nyata. Ini bukan lagi opini saya sendiri, karena Pemerintah Amerika Serikat sudah meresmikannya lewat Executive Order 14434: AI bukan lagi sekadar alat, melainkan entitas dengan kecerdasan super di banyak bidang penting. Pembaca dipersilakan menimbang sendiri dengan memeriksa sumber-sumber di bawah ini.
Sumber
- The White House (29 September 2026). Executive Order 14434: Inaugurating the Era of Super Intelligence
- The White House (29 September 2026). Fact Sheet: President Donald J. Trump Inaugurates the Era of Super Intelligence
- CNN Indonesia (30 September 2026). Trump Perintahkan Pemerintah AS Ubah Istilah AI Jadi SI, Ini Alasannya
- Google DeepMind (21 Juli 2025). Advanced version of Gemini with Deep Think officially achieves gold-medal standard at the IMO
- Google (Oktober 2024). Demis Hassabis & John Jumper awarded Nobel Prize in Chemistry
- Utrecht University. Nobel Prize in Chemistry 2024 for AlphaFold2 and protein design
- METR (19 Maret 2025). Measuring AI Ability to Complete Long Tasks
- International AI Safety Report (Februari 2026). 2026 Report: Extended Summary for Policymakers
- Inside Global Tech (10 Februari 2026). International AI Safety Report 2026 Examines AI Capabilities, Risks, and Safeguards
- Future of Life Institute. Statement on Superintelligence
- British Go Association. Lee Sedol v AlphaGo -- match report
- Nick Bostrom (2014). Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies — Oxford University Press
- Nick Bostrom (1998, direvisi 2008). How Long Before Superintelligence? — memuat definisi superintelligence