Tulisan

Marketplace Jamaah AI: Obrolan Grup Pengajian Jadi Lapak yang Bisa Dicari

28 Oktober 2026 · Kompasiana
Tayang pertama di Kompasiana

Hampir setiap grup WhatsApp pengajian punya "pasar kecil"-nya sendiri. Di sela pengumuman kajian, ucapan selamat, dan foto kegiatan, selalu ada jamaah yang menawarkan kurma, madu, gamis, kue kering, sampai rumah kontrakan. Pasar seperti ini tumbuh dengan sendirinya karena dibangun di atas rasa saling kenal dan percaya.

Masalahnya, grup WhatsApp memang dibuat untuk mengobrol, bukan untuk berjualan. Pesan jualan yang dikirim pagi hari bisa tertimbun ratusan pesan lain sebelum sore. Jamaah yang baru bergabung pekan depan tidak akan pernah melihatnya. Mencari kembali "madu yang kemarin ditawarkan Bu Fulanah" berarti menggulir layar tanpa ujung.

Tulisan ini membahas Marketplace Jamaah AI, sistem yang mencoba menjawab persoalan itu: obrolan jualan di grup WhatsApp diubah otomatis menjadi listing marketplace yang bisa dicari dan punya tautan permanen, tanpa jamaah perlu memasang aplikasi tambahan.

Mengapa WhatsApp, Bukan Aplikasi Baru?

WhatsApp sudah menjadi bagian dari keseharian orang Indonesia. CNN Indonesia (2 Mei 2025), mengutip World Population Review, menyebut Indonesia memiliki sekitar 112 juta pengguna WhatsApp, terbanyak ketiga di dunia. Pada saat yang sama, Meta mengumumkan WhatsApp telah mencapai 3 miliar pengguna secara global.

Bagi banyak jamaah, terutama ibu-ibu pengajian, para ustadz, dan warga lanjut usia, WhatsApp adalah satu-satunya aplikasi pesan yang benar-benar mereka kuasai. Dokumentasi proyek Marketplace Jamaah AI mencatat persoalan ini secara gamblang: jamaah enggan memasang marketplace baru karena hambatannya terlalu tinggi untuk segmen tersebut.

Karena itu, pendekatan yang dipilih adalah tidak memindahkan jamaah ke tempat baru. Jamaah tetap berjualan dan bertanya di grup seperti biasa. Sistemlah yang "mendengarkan" grup dan merapikan pesan jualan menjadi katalog.

Empat Masalah yang Ingin Diselesaikan

Dokumentasi proyek (README di repositori) merumuskan empat masalah utama jualan di grup WhatsApp komunitas:

  1. Pesan jualan tenggelam. Tidak ada riwayat yang rapi, tidak bisa dicari, dan tidak ada tautan permanen.
  2. Jamaah enggan memasang aplikasi baru. Marketplace umum terasa asing bagi sebagian besar anggota grup.
  3. Admin grup kewalahan. Memilah pesan penipuan, judi online, tawaran riba, dan pesan yang bukan jualan dilakukan secara manual.
  4. Penjual kehilangan calon pembeli. Anggota yang baru masuk tidak pernah melihat iklan yang sudah lewat.

Cara Kerjanya: Dari Pesan ke Listing

Menurut dokumen arsitekturnya, Marketplace Jamaah AI disusun dari 16 agen AI yang bekerja berurutan, masing-masing dengan tugas khusus. Bagi jamaah, prosesnya bisa diringkas menjadi enam langkah:

  1. Klasifikasi. Setiap pesan yang masuk ke grup diperiksa: apakah ini iklan, obrolan biasa, atau pelanggaran.
  2. Moderasi. Pesan yang terindikasi penipuan, judi online, atau riba ditandai. Pengirimnya mendapat peringatan dengan sistem tiga kali peringatan.
  3. Ekstraksi data. Dari kalimat bebas seperti "Jual kurma Madinah Rp150rb, WA 0858...", sistem mengambil judul, harga, kontak, lokasi, kategori, dan kondisi barang.
  4. Analisis foto. Bila pesan disertai foto produk, AI pengenal gambar membaca informasi tambahan dari foto tersebut.
  5. Pembuatan listing. Data yang sudah rapi disimpan sebagai listing di situs web, lengkap dengan tautan permanen berpola /p/<nomor>.
  6. Balasan ke grup. Sistem membalas di grup bahwa iklan sudah tercatat, disertai tautan listing-nya.

Dokumen arsitektur menyebut seluruh rangkaian ini berlangsung sekitar 3,4 detik pada contoh uji, dari pesan masuk hingga listing tersedia. Halaman situsnya sendiri menyampaikan kepada penjual bahwa iklan akan tampil "dalam beberapa menit" setelah melewati moderasi AI.

Setiap keputusan agen juga dicatat dalam log, termasuk alasan (reasoning) dan tingkat keyakinannya. Catatan ini penting agar keputusan AI, misalnya menandai sebuah pesan sebagai penipuan, bisa diperiksa ulang oleh manusia.

Manfaat bagi Jamaah

Bagi pembeli

Halaman depan situs Marketplace Jamaah AI menyediakan kolom pencarian, filter harga minimum dan maksimum, filter lokasi penjual, serta 13 kategori produk, termasuk sembako dan properti. Jamaah tidak perlu lagi menggulir grup. Cukup ketik "madu" atau pilih kategori, lalu lihat semua tawaran yang masih aktif.

Setiap listing memiliki tombol "Hubungi Penjual" yang membuka WhatsApp dengan pesan yang sudah terisi otomatis, berisi nama produk dan pertanyaan apakah barang masih tersedia. Percakapan tetap terjadi di aplikasi yang sudah dikenal.

Bagi penjual

Penjual tidak perlu mendaftar di platform lain atau mempelajari cara mengunggah produk. Mereka cukup menulis iklan di grup seperti biasa. Situsnya menyarankan agar iklan memuat nama barang, harga, deskripsi, dan foto supaya hasil ekstraksinya lengkap.

Keuntungan terbesarnya adalah tautan permanen. Iklan yang dulu hilang ditelan obrolan kini punya alamat tetap yang bisa dibagikan ulang ke grup lain, ke status WhatsApp, atau ke keluarga. Calon pembeli yang baru bergabung tetap bisa menemukannya.

Bagi admin grup

Moderasi otomatis mengurangi beban admin dalam memilah pesan bermasalah. Dokumentasi proyek menyebut sistem dapat memberi peringatan bertingkat dan menghapus pesan pelanggaran dari grup. Keputusan akhir soal aturan grup tetap berada di tangan pengurus komunitas.

Catatan Penting: Promosi, Bukan Transaksi di Platform

Perlu dipahami, model ini selaras dengan cara WhatsApp diposisikan dalam regulasi perdagangan. Saat menjelaskan Permendag Nomor 31 Tahun 2023, Menteri Perdagangan saat itu, Zulkifli Hasan, menyebut WhatsApp masuk kategori social e-commerce yang "hanya sebatas iklan dan promosi tanpa adanya transaksi" (detikInet, 1 November 2023).

Dalam alur yang tampak di situsnya, Marketplace Jamaah AI berfungsi sebagai katalog: listing ditampilkan, lalu pembeli menghubungi penjual secara langsung. Jamaah tetap perlu bersikap waspada seperti saat bertransaksi di mana pun, misalnya dengan memastikan barang dan identitas penjual sebelum membayar.

Gambaran Saat Ini

Saat tulisan ini disusun (29 Oktober 2026), halaman depan situs marketplacejamaah-ai.jodyaryono.id menampilkan 56 produk aktif dalam 13 kategori, dengan penanda "Penjual Terverifikasi" dan "Dikurasi AI Otomatis". Proyek yang dikembangkan oleh Jody Aryono ini juga diikutsertakan dalam QHomemart AI Agent Competition 2026, kategori "Build Real AI Agent. Solve Real Problems".

Penutup

Pelajaran dari Marketplace Jamaah AI cukup sederhana: teknologi yang baik tidak selalu harus memaksa orang berpindah kebiasaan. Kadang yang dibutuhkan justru teknologi yang mau datang ke tempat orang sudah berkumpul, lalu merapikan apa yang selama ini berserakan.

Grup pengajian tetap menjadi tempat silaturahmi. Bedanya, tawaran kurma, madu, dan gamis dari sesama jamaah kini tidak lagi hilang ditelan obrolan. Semuanya tercatat, bisa dicari, dan bisa dibagikan.

Sumber

16 pembaca 0 suka 0 komentar
Bagikan WhatsApp LinkedIn X Facebook

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Untuk menyukai atau menulis komentar, masuk dengan akun Google.

Langganan tulisan

Dapat email setiap ada tulisan baru. Bisa berhenti kapan saja.

atau