Tulisan

Open Source Bukan Berarti Bebas Tanpa Syarat: Kenali Lisensinya

25 Oktober 2026 · Kompasiana
Tayang pertama di Kompasiana

Banyak orang mengira kode yang terpampang di GitHub atau GitLab boleh diambil, diubah, lalu dibagikan begitu saja. Kodenya bisa dilihat, bisa diunduh gratis, jadi apa masalahnya?

Masalahnya, "open source" bukan berarti "tanpa pemilik" dan bukan pula "tanpa aturan". Setiap proyek open source biasanya membawa sebuah berkas bernama LICENSE. Berkas itulah yang menentukan apa yang boleh dan apa yang wajib dilakukan ketika kita memakai, mengubah, atau membagikan kode tersebut. Sebagian lisensi hanya meminta nama pembuatnya tetap dicantumkan. Sebagian lagi mewajibkan kode turunan ikut dibuka dengan lisensi yang sama.

Apa yang Disebut "Open Source"?

Open Source Initiative (OSI) merumuskan Open Source Definition yang terdiri dari 10 kriteria. Di antaranya: program boleh didistribusikan ulang secara bebas, kode sumbernya harus tersedia, karya turunan (modifikasi) harus diizinkan, dan lisensi tidak boleh mendiskriminasi orang, kelompok, atau bidang usaha tertentu.

Perhatikan: definisi ini menjamin hak, tetapi tidak menghapus kewajiban. Hak untuk memakai dan mengubah diberikan dengan syarat yang tertulis di lisensinya. Syarat-syarat inilah yang sering terlewat.

Secara garis besar, lisensi open source terbagi dua kelompok:

  • Lisensi permisif: syaratnya ringan, umumnya cukup mencantumkan hak cipta dan teks lisensi. Contoh: MIT, BSD, Apache 2.0.
  • Lisensi copyleft: mewajibkan karya turunan yang dibagikan memakai lisensi yang sama dan kode sumbernya dibuka. Contoh: GPL, LGPL, AGPL, MPL (dengan cakupan berbeda-beda).

Lisensi Permisif: Ringan, Tapi Tetap Ada Syarat

MIT License. Ini salah satu lisensi paling sederhana. Kode boleh dipakai untuk komersial, didistribusikan, diubah, dan dipakai pribadi. Syaratnya satu: pemberitahuan hak cipta dan teks lisensi harus disertakan. Lisensi ini juga menyatakan tidak ada garansi dan pembuatnya tidak bertanggung jawab atas kerugian.

Contoh sederhana: Rina memakai pustaka JavaScript berlisensi MIT di aplikasi kasir yang ia jual. Itu sah. Tetapi bila ia menghapus baris "Copyright (c) ..." dan teks lisensinya dari berkas yang ia sertakan, ia melanggar satu-satunya syarat lisensi tersebut.

BSD 3-Clause. Mirip MIT, dengan tiga syarat: distribusi kode sumber harus menyertakan pemberitahuan hak cipta, daftar syarat, dan penafian; distribusi bentuk biner (program jadi) harus menyertakan hal yang sama di dokumentasi; dan nama pemegang hak cipta atau kontributor tidak boleh dipakai untuk mempromosikan produk turunan tanpa izin tertulis.

Apache License 2.0. Selain izin komersial, distribusi, dan modifikasi, Apache 2.0 secara tegas memberi izin penggunaan paten. Syaratnya: sertakan hak cipta dan lisensi, serta beri keterangan bila berkas diubah (state changes). Lisensi ini juga tidak memberi hak memakai merek dagang pemilik proyek.

Contoh: Seorang developer memodifikasi berkas dari proyek berlisensi Apache 2.0. Ia wajib menandai berkas itu sebagai sudah diubah, misalnya dengan catatan di kepala berkas, agar orang lain tahu bagian mana yang bukan karya asli.

Lisensi Copyleft: Berbagi Kembali Itu Kewajiban

GNU GPL v3. GPL mewajibkan siapa pun yang mendistribusikan program turunannya untuk membuka kode sumber, memakai lisensi yang sama (GPL), menyertakan hak cipta dan lisensi, serta mencatat perubahan. Prinsip ini disebut copyleft: kebebasan yang diterima harus diteruskan.

Dua hal sering disalahpahami. Pertama, menurut FAQ GNU, GPL tidak mewajibkan merilis versi modifikasi yang hanya dipakai pribadi; kewajiban membuka kode muncul saat versi itu dirilis ke publik. Kedua, GPL membolehkan program dijual; FAQ GNU menyebut tidak ada batas harga, kecuali satu situasi khusus terkait penawaran tertulis untuk menyediakan kode sumber.

Contoh: Budi mengambil aplikasi berlisensi GPL, menambah fitur, lalu menjual hasilnya ke klien dalam bentuk program jadi. Itu boleh, tetapi klien berhak mendapatkan kode sumber lengkapnya di bawah GPL. Budi tidak bisa menjadikannya aplikasi tertutup.

GNU LGPL v3. Versi "lebih lunak" dari GPL, dirancang untuk pustaka (library). Kewajiban copyleft berlaku pada pustakanya. Bila pustaka LGPL dimodifikasi, modifikasinya harus dibuka. Program yang sekadar memakai pustaka itu punya aturan sendiri: FAQ GNU menjelaskan, untuk penautan dinamis dengan pustaka yang sudah ada di komputer pengguna, kode sumber pustaka tidak perlu ikut disertakan; untuk penautan statis, aplikasi harus disediakan dalam bentuk objek (tidak harus kode sumber) agar bisa ditautkan ulang.

GNU AGPL v3. Ada celah pada GPL: bila program hanya dijalankan di server sendiri, tidak terjadi "distribusi", sehingga pengguna tidak pernah menerima kode sumber versi modifikasinya. AGPL menutup celah ini. Bila program modifikasi dijalankan di server dan orang lain berinteraksi dengannya lewat jaringan, server itu juga harus memberi pengguna kesempatan mengunduh kode sumbernya.

Contoh: Sebuah startup memodifikasi aplikasi web berlisensi AGPL lalu menjalankannya sebagai layanan daring. Meski tidak ada berkas yang dibagikan ke pelanggan, kode sumber versi modifikasinya tetap wajib disediakan bagi pengguna layanan.

Mozilla Public License (MPL) 2.0. MPL berada di tengah. Copyleft-nya berlaku per berkas. Berkas MPL yang diubah harus tetap berlisensi MPL dan kodenya tersedia bagi penerima. Namun, berkas baru yang tidak mengandung kode MPL boleh memakai lisensi lain, termasuk tertutup. Menurut FAQ Mozilla, penggunaan internal di dalam organisasi tidak memicu kewajiban berbagi.

Bagaimana dengan Creative Commons?

Creative Commons (CC) populer untuk tulisan, foto, musik, dan desain. Ada enam lisensi CC yang disusun dari empat unsur: BY (wajib atribusi, ada di semua lisensi CC), SA (karya turunan harus berlisensi sama), NC (tidak untuk komersial), dan ND (tidak boleh diubah).

Contoh: Foto berlisensi CC BY-NC boleh dipakai di blog pribadi asalkan nama fotografernya dicantumkan, tetapi tidak boleh dipakai untuk iklan produk berbayar.

Penting dicatat: Creative Commons sendiri tidak menyarankan lisensi CC untuk perangkat lunak, karena lisensi CC tidak mengatur distribusi kode sumber maupun paten, dan tidak kompatibel dengan lisensi perangkat lunak utama. Pengecualiannya CC0, yang kompatibel dengan GPL. Lisensi CC tetap cocok untuk dokumentasi atau aset seni dalam proyek, seperti gambar dan musik gim.

Ringkasan Cepat

Lisensi Wajib atribusi Wajib buka kode turunan Lisensi sama Catatan khusus

MIT Ya Tidak Tidak Paling sederhana

BSD 3-Clause Ya Tidak Tidak Larangan memakai nama untuk promosi

Apache 2.0 Ya Tidak Tidak Izin paten, wajib tandai perubahan

GPL v3 Ya Ya, saat didistribusikan Ya Copyleft penuh

LGPL v3 Ya Ya, untuk pustakanya Ya (pustaka) Untuk library

AGPL v3 Ya Ya, termasuk layanan jaringan Ya Menutup celah server

MPL 2.0 Ya Ya, per berkas Ya (berkas) Copyleft per berkas

Langkah Praktis Sebelum Memakai atau Membagikan Kode

  1. Buka berkas LICENSE di repositori sebelum menyalin kode. Tidak ada berkas lisensi bukan berarti bebas dipakai.
  2. Kenali kelompoknya: permisif atau copyleft. Ini menentukan apakah proyek kita nanti wajib dibuka.
  3. Simpan atribusi: jangan hapus pemberitahuan hak cipta dan teks lisensi dari kode yang dipakai.
  4. Perhatikan cara pakai: dijual, dibagikan, atau dijalankan sebagai layanan daring (penting untuk AGPL).
  5. Untuk karya non-kode, cek unsur CC-nya (BY, SA, NC, ND).
  6. Ragu? Baca teks lisensi aslinya atau tanyakan ke ahli hukum. Ringkasan seperti artikel ini membantu memahami, tetapi bukan pengganti teks lisensi.

Open source adalah ekosistem berbagi yang berjalan karena para pembuatnya menetapkan aturan main. Menghormati lisensi berarti menghormati kerja keras mereka, sekaligus melindungi proyek kita sendiri dari masalah hukum di kemudian hari.

Sumber

9 pembaca 0 suka 0 komentar
Bagikan WhatsApp LinkedIn X Facebook

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Untuk menyukai atau menulis komentar, masuk dengan akun Google.

Langganan tulisan

Dapat email setiap ada tulisan baru. Bisa berhenti kapan saja.

atau